Beruntungnya Aku

D malam yang agak cozy ini membuat gw sedikit merenung.

Saat ini gw bekerja di salah satu instansi pemerintah di kawasan sekitar juanda jakarta pusat. Sebagai perantau, sampai detik ini masih menumpang alias ngekos d rumah ibu kos yang terletak di kawasan tanah abang. Sehari2 gw ke kantor naik ojek atau ngangkot.

 

kawasan kosan gw terbilang sangat sederhana, terletak di kawasan rumah penduduk pribumi kota jakarta dan agak masuk gang, kiri kanan kosan banyak orang betawi asli ataupun perantau. Di sekitar daerah kosan terdapat beberapa kosan lain. Namun agaknya pemilik kosan gw cukup terkenal, karena memiliki 4 rumah kosan di daerah ini. Ke empat kosanny punya ciri khas yang sama yakni selalu bersih, karena pemilik kosan menerapkan aturan yang sama untuk penghuni kos, yakni tidak ada yang berserakan dan melarang pria masuk ke dalam rumah kos, karena kos ini khusus untuk wanita.

Kebetulan gw d rumah kos yang serumah dengan pemilik kosan, jadi terkadang gw selalu dapat informasi tentang pemilik kos dan penghuni kos yang lain dari si bibi,karena kebetulan juga para bibi untuk semua keempat kos ngumpulnya d kosan gw.

 

Kamar gw yang berada di lantai 1 dan dekat pintu masuk membuat gw mau gak mau selalu bertemu dengan para bibi. Si bibi bisa di bilang sudah cukup umur. Walaupun begitu tenaga mereka masih kuat untuk membersihkan rumah kosan setiap hari dan mencuci pakaian para penghuni kos setiap hari. 

Bisa dibayangkan jika tidak ada mereka, mungkin kosan kotor dan penghuni kosan yg tak punya waktu untuk ngurusin pakaian pun akan kewalahan. Pernah suatu waktu si bibi yang bertugas mencuci pakaian kena musibah, kelimpungan dech gw.

Sebetulnya gw betah tinggal di kosan ini karena rumah kos yang bersih, walaupun setiap sabtu dan minggu kesulitan mencari makan karena rm padang di sekitar kosan jarang ada yang buka pas weekend

tapi beruntung di dekat kosan ada warung kopi dan juga ada ibu2 yang suka diminta buatkan makanan oleh penghuni kos. Biasany klo weekend, Klo lagi banyak duit suka delivery tp klo lagi kere gw suka beli bubur kacang ijo or indomie rebus di warkop, atau minta tolong si ibu depan kosan untuk membuatkan bakso atau menggoreng nugget yang biasa gw stok di kulkas.

Gw m6ngkin bukan tipikal org yang luwes dalam bersosialisasi dg penduduk sekitar kecuali sama penjual makanan langganan. Mereka selalu bilang kepada gw *enak ya mba jadi pegawai kantoran* dan gw hanya tersenyum

Terus terang dalam hati gw salut sama mereka yang mau berusaha dengan tenaga yang masih ada ketimbang orang2 yang mengandalkan rasa kasihan orang untuk mendapatkan uang. Rata2 para penjual makanan di sekitar kos orang2 sederhana, dengan rumah atau tempat tinggal yg sederhana pula tapi keberadaan mereka sangat dibutuhkan oleh orang2 seperti gw.

Selain penjual makanan adalagi tukang ojek, mungkin karena sudah sering ngojek alhasil para tukang ojek familiar dg wajah gw, kadang nganterin ke kantor, ke carrefour,k stasiun. Gw salut dg mereka, berbekal motor mrk juga bs menghasilkan uang,Ada seorang bapak tua tukang ojek yang selalu ada d pagi hari setiap gw brgkt kerja, gw ingat bgt dulu berbekal motor butut ngNterin gw k kantor tp sekarang motornya udah baru, salut sama si bapak.

Kadang suka berkaca pada diri sendiri, gw yang bekerja di kantor yang ber ac, dapat fasilitas yang memadai dari kantor, bahkan kadang suka nginap d hotel ataupun ke kota2 lain, sangat tidak rasional jika setiap hari gw habiskan dengan mengeluh.

jujur beberapa bulan terakhir gw sangat jenuh di kantor, sempat ingin menyerah, namun gw belum ada pilihan lain selain bertahan,tadinya ingin rehat selama 2 tahun untuk sekolah lagi, namun prosesnya mengalami hambatan, tapi Insya Allah semua pasti ada jalannya.

Saat ini yang bisa gw lakukan berkompromi dengan keadaan kantor dan berhenti mengeluh 🙂

Advertisements